Alamat
Jl. Kapten Mulyadi No.175, Kec. Ps. Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57118
Jam Operasional
Senin - Minggu: 08:30 - 20:00
Alamat
Jl. Kapten Mulyadi No.175, Kec. Ps. Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57118
Jam Operasional
Senin - Minggu: 08:30 - 20:00


Setiap Ramadan, ada satu kebiasaan yang hampir tidak pernah berubah: sebelum minuman manis, sebelum gorengan, sebelum makanan berat, tangan biasanya lebih dulu mengambil kurma.
Pertanyaannya, kenapa kurma selalu menjadi makanan pertama saat berbuka puasa? Apakah hanya karena tradisi, atau memang ada alasan di baliknya?
Alasan paling utama adalah mengikuti sunnah. Dalam riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ berbuka dengan kurma sebelum melaksanakan salat Maghrib. Tradisi ini kemudian menjadi kebiasaan umat Muslim di seluruh dunia.
Karena itu, kurma bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari ibadah. Mengonsumsi kurma saat berbuka bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menghidupkan sunnah.
Setelah kurang lebih 12–14 jam berpuasa, kadar gula darah dalam tubuh menurun. Tubuh membutuhkan asupan yang cepat diserap untuk mengembalikan energi.
Kurma mengandung gula alami seperti glukosa dan fruktosa yang mudah dicerna. Inilah alasan mengapa setelah makan satu atau dua butir kurma, tubuh terasa lebih segar sebelum menyantap makanan utama.
Efek ini berbeda dibanding makanan berat yang justru membuat perut terasa penuh dan lambat dicerna.
Berbeda dengan minuman tinggi gula buatan, kurma memiliki rasa manis alami yang tidak menusuk. Teksturnya juga lembut sehingga nyaman dikonsumsi saat perut masih kosong.
Itulah sebabnya kurma sering dianggap sebagai “pembuka yang aman” sebelum masuk ke hidangan utama. Tubuh tidak kaget, pencernaan lebih siap, dan rasa kenyang datang secara bertahap.
Kurma juga melambangkan kesederhanaan. Di tengah berbagai hidangan berbuka yang beragam, kurma tetap menjadi simbol bahwa berbuka tidak harus berlebihan.
Satu atau dua butir sudah cukup untuk memulai. Filosofi ini selaras dengan makna Ramadan sebagai bulan pengendalian diri.
Karena alasan religius, kesehatan, dan tradisi menyatu dalam satu produk. Kurma menjadi kebutuhan utama, bukan sekadar pelengkap.
Tidak heran jika setiap menjelang Ramadan, permintaan kurma meningkat tajam. Banyak keluarga memilih menyiapkan stok sejak awal agar tidak kehabisan di pertengahan bulan.
Kurma bukan hanya makanan pembuka puasa. Ia adalah kombinasi antara sunnah, kebutuhan tubuh, dan simbol keberkahan Ramadan.
Memahami alasan di balik kebiasaan ini membuat kita tidak sekadar mengikuti tradisi, tetapi juga memahami maknanya.